<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735</id><updated>2012-02-17T10:25:31.496+08:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Cerpen'/><title type='text'>risalahgerimis</title><subtitle type='html'>Hadir Untuk Sebuah Aktualisasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-5619538518743595208</id><published>2007-11-13T10:13:00.001+08:00</published><updated>2007-11-13T10:17:36.805+08:00</updated><title type='text'>HARI PAHLAWAN TANPA PAHLAWAN</title><content type='html'>Apa kabar hari pahlawan tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, bangsa kita senantiasa larut dalam kenangan masa lalu. Mangagung-agungkan kejayaan pahlawan masa silam tapi gagap dalam kekinian ketika tak ada lagi pahlawan.&lt;br /&gt;Bangsa ini tak punya pahlawan karena menjadi pahlawan terlalu sulit, membutuhkan integritas, kesabaran dan kebijaksanaan, kekuatan moral, ketangguhan perjuangan, membutuhkan pengorbanan. Sesuatu yang tidak akan dengan mudah kita wujudkan karena mungkin saja kita bahkan tak memilikinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-5619538518743595208?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/5619538518743595208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=5619538518743595208' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/5619538518743595208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/5619538518743595208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/11/hari-pahlawan-tanpa-pahlawan.html' title='HARI PAHLAWAN TANPA PAHLAWAN'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-1052187473364787009</id><published>2007-11-06T09:27:00.000+08:00</published><updated>2007-11-07T11:44:22.288+08:00</updated><title type='text'>Bukan Saya Tak Menyukai Hujan</title><content type='html'>Apa kabar cuaca hari ini?&lt;br /&gt;seharusnya saya senang karena hujan lebih sering turun. Tapi musim sudah mulai curang. Bukankah musim panas terlalu singkat? Tapi sebenarnya saya benci musim panas. Seharusnya saya riang dengan hujan yang lebih sering menyapa.&lt;br /&gt;Tapi saya sadar. semua sudah tidak lagi seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Save The Earth !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-1052187473364787009?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/1052187473364787009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=1052187473364787009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/1052187473364787009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/1052187473364787009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/11/bukan-saya-tak-menyukai-hujan.html' title='Bukan Saya Tak Menyukai Hujan'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-2130585617564016380</id><published>2007-11-02T12:59:00.000+08:00</published><updated>2007-11-07T11:03:01.457+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>47 TAHUN UNLAM: ANTARA ‘MODERNITAS’ DAN KETERTINGGALAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tanggal 1 November 2007, sudah 47 tahun Unlam menjadi universitas negeri. Momen menjadi Universitas Negeri inilah yang diperingati sebagai Dies Natalis Unlam. Tapi sepertinya perayaan rutin tahunan ini tahun ini akan tenggelam oleh satu perhelatan nasional di mana Unlam menjadi tuan rumah, apalagi kalau bukan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) yang Opening ceremony-nya menghadirkan Presiden Republik Indonesia yang tampan, Susilo Bambang Yudhoyono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bagi mayoritas masyarakat, memang luar biasa prestasi Unlam untuk mampu menjadi tuan rumah Pomnas yang sejauh ini berjalan dengan lancar. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi Universitas yang tidak masuk 50 Universitas unggulan Indonesia ini. Persiapan yang dilakukan luar biasa, melibatkan semua unsur masyarakat Kalsel khususnya para Birokrat. Even Pomnas tidak lagi cuma menjadi milik Unlam tapi menjadi milik Kalsel. Mungkin itu sebabnya poster besar Gubernur Rudi Arifin terpampang di depan gedung Sultan Suriansyah yang artinya Pemprov dalam even ini berkontribusi besar ya). Pomnas di Kalsel menjelma PON dalam tanda kutip karena antusiasme yang cukup besar dalam penggarapannya meski fasilitas olahraga di Kalsel bisa dikatakan masih minim secara kuantitas dan kualitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Unlam, Unlam yang mengagumkan. Rasanya tak tepat lagi idiom ’Universitas Lambat maju’ masih ditempel di belakang nama besar Unlam. Iya toh. Mari kita tengok baik-baik. bagaimana tanah lapang yang ditumbuhi semak disulap menjadi taman yang asri. Kita juga bisa melihat pembangunan fisik lain yang signifikan beberapa tahun terakhir: pagar depan Unlam, pembangunan gedung-gedung baru di FKIP, pengadaan armada bus, peremajaan beberapa bangunan. Bukankah Unlam sudah melangkah begitu jauh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Belum lagi kemajuan bidang non-infrastruktur, kerjasama dengan Universitas Utara Malaysia itu sungguh luar biasa, mahasiswa bisa S2 di Malaysia dengan kemudahan di luar perkiraan. Pengadaan teknologi informasi dengan terwujudnya Hotspot area di beberapa tempat di Unlam sehingga memudahkan mahasiswa mengakses internet. Bukankah itu sesuatu yang harus diapresiasi? Belum lagi kerjasama Unlam baik dengan BUMN maupun BUMS, meski saya tidak tahu kerjasama itu dengan siapa saja dan menghasilkan apa saja tapi yang jelas Unlam luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Atas nama modernitas Pendidikan dan keinginan untuk sama seperti Universitas lain yang terlihat begitu maju dan modern. Maka, begitu jelaslah platform pembangunan Unlam menuju kemandirian Universitas, sebuah persiapan untuk menjadi BHP yang masih debatable itu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi benarkah semua ini? Benarkah Unlam telah menjelma sebagai Universitas modern dan berkualitas? Benarkah suatu kesalahan besar meniadakan Unlam di antara 50 Universitas unggulan Indonesia? Sudah benarkah penerapan kebijakan strategis Unlam yang beberapa tahun terakhir ini dilaksanakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mari sekarang benar-benar kita berkontemplasi. Buat saya pribadi, yang paling mencerminkan kualitas, kapabilitas dan iklim sebuah lembaga pendidikan termasuk Unlam adalah mereka yang dididik di sana, dalam hal ini mahasiswa Unlam-nya. Jika sekarang kita takar mahasiswa Unlam, bisakah kita mengambil kesimpulan bahwa Unlam telah cukup bagus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Secara umum, mahasiswa Unlam mempunyai kualifikasi sebagai berikut: (1). Minat baca rendah, (2). Penguasaan pada perkembangan disiplin ilmu yang dipelajari rendah, (3). Tidak peka pada persoalan-persoalan yang ada di lingkungan sekitar dan masyarakat, (4). Daya juangnya rendah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika mereka punya minat baca yang tinggi, maka mahasiswa Unlam akan serentak protes saat perpustakaan di kampus mereka cuma punya koleksi buku-buku yang sedikit dan tua pula. Jika mereka punya minat baca yang tinggi maka mahasiswa Unlam akan sering terlihat dalam keadaan membaca, bukannya sering kedapatan ngobrol dengan materi obrolan yang tiidak bermutu untuk ukuran mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ada banyak mahasiswa Unlam yang IPK-nya di atas 3,00, mereka cumlaude. Namun, ternyata gagap dalam aplikasi keilmuan. Sebagian besar disebabkan mereka belajar ilmu yang begitu-begitu saja dengan sumber yang terbatas dan benar-benar text book. Misalnya saja, ketika mempelajari sejarah sastra Indonesia, mereka cuma mempelajari sastrawan-sastrawan yang masuk kanon sastra atau cuma mempelajari peristiwa-peristiwa ’pertarungan’ Manikebuis dan Lekrais –saja. Padahal sastra tak cuma itu. Harusnya mereka mencari di luar itu dan yang tak kalah penting adalah tahu ke mana perkembangan sastra sekarang. Sama saja seperti ilmu-ilmu yang lain, mahasiswa harus tahu perkembangan ilmu dan bersikap kritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mahasiswa Unlam juga cenderung cuek (tapi ini juga jadi problematika sebagian besar mahasiswa Indonesia), selama mereka tidak merasa dirugikan oleh suatu hal, mereka cenderung betah cuma jadi penonton. Parahnya lagi, kecuekan para mahasiwa ini begitu ironis. Pada hal-hal besar seperti korupsi birokrat kampus atau keterpurukan perpustakaan sampai kenaikan harga minyak dunia mereka dengan mudah cuek, tapi jika sudah berkenaan dengan putus cinta, tonton menonton film atau sinetron, gosip artis, mereka bisa menjadi sangat serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aktivis mahasiswa juga adalah barang langka di Unlam. Kalaupun ada daya juangnya rendah dan tidak punya sistem yang kuat, juga tidak punya konsistensi perjuangan yang jelas. Perjuangan mahasiwa Unlam mudah dipatahkan bahkan meski itu terasa begitu revolusioner sekalupun. Contohnya saja perjuangan pemilihan Rektor langsung, toh kawan-kawan mahasiswa sudah sangat puas dengan pemilihan semi langsung dan kedodoran ketika memperjuangkan pemilihan Dekan-Dekan secara langsung di beberapa fakultas. Gerakan mahasiswa Unlam juga begitu tergantung pada figur, ketika aktivis macam Fakhri Wardhani, Donald Simarmata, atau Bierhasani lenyap dari kampus maka perjuangan merekapun terasa mengendur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Meski begitu kita juga tidak bisa mengabaikan kawan-kawan mahasiswa berprestasi, mereka adalah kunang-kunang di antara ribuan mahasiswa Unlam yang cahayanya samar dan kadang gulita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain mahasiswa, dosen juga sangat menentukan kualitas. Bersyukurlah beberapa tahun terakhir ada banyak dosen yang sudah menyuburkan tradisi ilmiah dengan menulis buku dan mempublikasikannya. Untuk menyebut beberapa nama: Dr. Jumadi, Daud Pamungkas, M.Pd, Sainul Hermawan, M. Hum yang konsisten keakademisannya dengan menerbitkan buku-buku ajar atau Ersis Warmansyah Abbas yang menulis banyak hal di luar disiplin ilmunya. Mereka menandai kebangkitan tradisi penulisan di lingkungan akademisi Unlam. Meski memang, seperti yang sudah pernah saya tulis, masih banyak Dosen yang setia dengan ilmu lama gaya lamanya. Ilmu terus berkembang, mudah-mudahan dosen-dosen Unlam tidak terjebak pada kejumudan intelektualitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Itu artinya Unlam masih tertinggal ya? Bagi saya iya –tanpa mengurangi apresiasi saya terhadap kemajuan Unlam sampai detik ini. Bagi saya ruh ilmu pengetahuan, tradisi ilmiah, kekritisan yang merupakan ciri khas kaum intelektual itulah yang memnentukan bermutu tidaknya suatu Universitas. Bukan semata fasilitas (Untuk masalah fasilitas ini sendiri, di Unlam juga masih belum merata. Untuk Hotspot area misalnya, yang konsisten dan eksis sementara adalah FKIP -mungkin segera disusul yang lain-, penulisan buku juga didominasi FKIP)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maka, di Ulang Tahun yang ke-47 ini, marilah kita sama-sama merenungi nasib Almamater yang kita cintai ini. Mari kita berdoa semoga Allah menurunkan rahmatnya di Universitas ini. Sehingga usaha-usaha kita untuk maju menjadi berkah (asal kita kerjanya bersih). Insya Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Demikianlah. Wallahu’alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-2130585617564016380?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/2130585617564016380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=2130585617564016380' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/2130585617564016380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/2130585617564016380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/11/47-tahun-unlam-antara-modernitas-dan.html' title='47 TAHUN UNLAM: ANTARA ‘MODERNITAS’ DAN KETERTINGGALAN'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-7574393077694666553</id><published>2007-10-31T10:24:00.000+08:00</published><updated>2007-11-07T11:03:44.733+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>LELAKI YANG SENANG MEMBICARAKAN BINTANG</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Bintang–bintang yang kamu lihat itu adalah bintang-bintang yang sama dengan bintang-bintang yang dilihat orang-orang dari sepuluh ribu tahun yang lalu.” “Berarti bintang-bintang itu pernah dilihat oleh Nabi Muhammad ya?” “Iya…” “Berarti nabi Musa, nabi Nuh, Fir’aun, Herkules, mereka semua melihat bintang-bintang yang sama dengan yang kulihat sekarang. “Benar, bayangkan, kita melihat bintang-bintang yang disaksikan orang zaman dulu, kemarin, dan mungkin juga besok. Bintang yang akan dilihat anak cucu kita adalah bintang-bintang yang itu juga. Sungguh menakjubkan bagaimana bintang-bintang itu menghubungkan kita. Benda bersejarah setua apapun akan berubah karena manusia menyentuhnya, tetapi bintang-bintang itu tak berubah karena mereka tak tersentuh tangan kita.” “Bintang-bintang itu luar biasa ya.” “Sungguh luar biasa, bintang-bintang itu menyaksikan kejadian di bumi masa demi masa,itu sebabnya bintang begitu misterius, karena ia menyimpan begitu banyak rahasia dari apa yang dilihatnya di bumi kita.” “Itu sebabnya kamu menyukai bintang?” “Ada banyak alasan untuk menyukai bintang.”&lt;br /&gt;           Kami dipertemukan oleh bintang, dan kelak aku akan tahu kalau kamipun akan dipisahkan oleh bintang. Usia kami terpaut beberapa tahun. Aku kelas 6 SD saat mengenalnya sebagai pendatang baru di kampung kami. Saat itu dia duduk di SMP kelas 2. Orang tuanya adalah pengusaha perkebunan yang kaya. Ribuan hektar tanah di sebelah kampung kami adalah tanah orang tuanya. Dia dikeluarkan dari sekolahnya di kota karena berkelahi dan membuat lawannya masuk rumah sakit. Waktu ayahnya ingn memindahkannya ke sekolah lain di kota yang sama, ia menolak dan meminta untuk dipindahkan ke sekolah di kampungku.&lt;br /&gt;           Ia tinggal dengan pak Umar, pengawas kebun ayahnya. Beberapa  bulan sejak kedatangannya, dia tak kunjung akrab dengan anak muda di kampungku. Jelas terlihat mereka segan berakrab-akrab dengannya, selain karena mereka tahu ia anak pemilik kebun, mereka juga tahu kasus pemukulan yang menyebabkannya dikeluarkan dari sekolah, ditambah lagi dia juga nampak lebih suka menyendiri. Aku sering melihatnya membaca buku di teras rumah pak Umar, atau jika malam, aku melihatnya meneropong langit dari loteng rumah pak Umar yang terbuka. Sendirian. Aku tak begitu tertarik dengan kebiasaannya membaca buku, tapi kebiasaannya meneropong langit malam sungguh membuatku bertanya-tanya, apa yang sedang dilihatnya melalui teropong itu? Meski begitu tertarik, aku seperti anak-anak lainnya, tetap tak berani menegurnya apalagi berteman dengannya.&lt;br /&gt;           Hampir setahun sejak kedatangnnya di kampungku saat malam itu untuk pertama kalinya kami bertegur sapa. Saat itu aku duduk di kelas 1 SMP. Malam itu malam bulan Ramadhan. Aku begitu kesal dengan teman-temanku, Yandi dan Eko yag meninggalkanku seusai sholat tarawih, padahal malam itu kami sepakat menyalakan petasan di bukit belakang rumah Yandi. Kurasa mereka sengaja meninggalkanku. Mereka cuma ingin menyalakan petasan berdua saja.” Kekesalanku mengubun-ubun, akhirnya aku menangis di tengah perjalanan pulang. Aku nyaris berlari ketakutan saat  kudengar seseorang berbicara di atas pohon di pinggir jalan. Awalnya kukira itu makhluk halus atau semacamnya sampai kusadar kalau itu dia.&lt;br /&gt;           “Teman-temanmu baru saja pergi, tak terlalu jauh untuk kau susul. Kau tak perlu sekesal itu dengan mereka.” Kudongakkan kepalaku dan menemukan sumber suara itu, dia  duduk menjuntaikan kaki di atas pohon yang tak terlalu tinggi itu. “Aku tak mau, mereka sengaja meninggalkanku. Buat apa aku menyusul mereka? Tapi darimana kamu tahu kalau aku kesal dengan mereka?” “Perlahan dia melompat turun dari atas pohon. “Mereka tadi metertawakanmu.” Kekesalanku kembali, “Mereka jahat…” Aku hampir saja menangis lagi sampai dia meraih tanganku, “Sudahlah jangan cengeng. Begini saja, kau ikut saja denganku. Akan kutunjukkan sesuatu yang menarik, kau mau?” Aku mengangguk, kami lalu berjalan bersisian.&lt;br /&gt;           “Aku akan mengajakmu melihat bintang, dengan teropongku. Aku tahu kau selalu mengamatiku jika kau di lotengnya pak Umar.” “Iya. Jadi itu sebabnya kamu ada di atas pohon itu. Ingin meneropong ya?” “Tidak juga, mmm, sebenarnya iya sih. Aku mencoba-coba meneropong dari situ. Rencananya, sepulang tarawih ku ingin meneropong dari atas pohon mangga tadi, tapi ku mendengar tangisanmu…Masa anak lelaki menangis.” Dia tersenyum, aku tertunduk malu. Sosoknya kokoh menjulang padahal dia baru kelas 3 SMP, tak heran teman yang pernah dia pukuli dulu masuk rumah sakit. Ingat itu aku jadi ketakutan sendiri. Apa yang sedang kulakukan. Mengapa aku iyakan saja mengikutinya.&lt;br /&gt;           “Namaku Najmun. Namamu Ardi bukan?” “Iya, kamu tahu namaku ya, aku juga tahu namamu Najmun. Dari dulu aku berpikir, namamu aneh.” Dia tersenyum, “Dalam bahasa Arab, namaku artinya bintang. Kau tahu kenapa aku dinamakan Najmun. Ibuku bilang aku dilahirkan malam hari. Saat lahir tangisku begitu keras, aku baru berhenti menangis saat ayah memabawaku keluar rumah. Ibu bilang aku diam saat ayah menunjuk langit malam yang penuh bintang.”&lt;br /&gt;           Kami masuk ke kamar Najmun lewat samping rumah pak Umar. Kamar Najmun sengaja dibuat agak terpisah dari rumah utama pa Umar agar Najmun mudah keluar masuk. Tangga menuju loteng rumah pak Umar berada tepat di depan kamar Najmun. Sebelum naik ke loteng, Najmun mengajakku ke kamarnya. Kamar termewah yang pernah kulihat, setidaknya untuk ukuran kampung. Sebuah tempat tidur busa, televisi, kulkas, komputer. Sungguh kamar yang menyenangkan. Kamar itu dicat biru cerah, seprai tempat tidur juga berwarna biru malam. Kurasa Najmun penyuka warna biru.&lt;br /&gt;           “Kita ambil makanan kecil dulu. Ini pegang teropongku, ku yakin kau ingin memegangnya dari dulu,” ucap Najmun lantas membuka kulkas. Aku tahu apa itu teropong, sebuah benda yang bisa membuat kita melihat sesuatu yang jauh jadi terasa dekat, jelas dan besar. Tapi baru kali ini aku memegangnya. Teropong Najmun berat dan besar. Sepertinya lapisan luar teropong terbuat dari kulit.&lt;br /&gt;           “Kita akan merasa seperti titik yang begitu kecil di semesta milik Allah saat kita melihat bintang, langit yang luas, udara malam yang bersih…” Dia bicara sambil menoleh padaku di bawah saat kami menaiki tangga menuju loteng. “Nah, selamat datang di langit lepas. Gimana? Kesalnya sudah hilang?” pertanyaannya mengingatkanku kembali pada Yandi dan Eko yang sudah mulai kulupakan sejak aku mengikutinya. “Sudah tidak lagi. Apa yang kita lakukan di sini? Cuma melihat langit?” Aku mengikutinya duduk di pinggiran loteng, kami juntaikan kaki kami.&lt;br /&gt;“Iya, kita cuma melihat langit. Langit yang begitu luas. Coba lihat, bintangnya banyak sekali.” “Iya…” “kamu perlu tahu, pelaut-pelut zaman dulu cuma mengandalkan bintang sebagai penunjuk jalan saat berada di tengah laut lepas. Tak ada kompas, tak ada sinyal, tak ada jejak apapun.” “Cuma mengandalkan bintang?” “Iya, bintang. Sekarang, coba kau lihat bintang-bintang itu, mereka punya kumpulannya sendiri, namanya rasi bintang.” “Iya, aku pernah dengar tentang itu.” “Coba kau lihat, itu ras bintang Beruang Besar, rasi bintang yang paling sering kita lihat dari belahan bumi kathulistiwa ini.” Dia menunjuk sekumpulan bintang yang membentuk pola segi empat tidak teratur ditambah tiga deret bintang di dekatnya.&lt;br /&gt;           Dia menjelaskan beberapa rasi bintang lain, tetapi kelak aku paling ingat dengan rasi bintang Beruang Besar karena itu adalah rasi bintang pertama yang dtunjukkkannya padaku. Perasaanku perlahan berubah, aku mulai mengerti mengapa ia begitu menyukai bintang, ia bercerita banyak tentang bintang.&lt;br /&gt;           “kalau kau di laut lepas, di ujung langit kau mungkin akan menemukan bintang polaris.” Dia memandangiku dan merasa kalau aku bertanya padanya apa itu bintang polaris. “Polaris adalah bintang terang yang letaknya persis di atas kutub utara bumi. Polaris sering disebut sebagai bintang kutub. Berdasarkan peta langit, polaris berada di satu derajat kutub langit.” Aku mulai mengernyit, “Peta langit? Kutub langit?” “He he he. Jangan bengong gitu ah. Ahli perbintangan punya peta langit yang memetakan letak bintang-bintang. Peta itu dibuat berdasarkan letak bintang terlihat dari bumi. Kutub langit tepat di atas kutub bumi.”&lt;br /&gt;           Aku pulang setelah sekitar dua jam berbincang dengan Najmun di loteng rumah pak Umar. Malam itu malam pertamaku bersamanya. Sejak malam itu pula aku mulai menyukai bintang dan kelak aku mulai sering menghabiskan malam di loteng rumah pak Umar.&lt;br /&gt;           “kau tahu matahari itu bintang?” Aku hampir sampai di depan rumahku saat ia bicara sambil menjejeri langkahku. “Lho, kau nggak pakai sepeda? Kenapa jalan, biasanya pakai sepeda?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah langsung duduk di teras rumahku. “Sebenarnya aku mau pulang jalan bareng kamu, tapi lupa bilang tadi malam. Pas kucari-cari d kelasmu kau sudah pulang. Aku ingin sekali jalan kaki bersama teman baruku.” Teman baru…ya, meski sudah setahun lebih ia di kampungku, kami baru saja berteman. Namun aku teringat lagi tentang ayahnya yang kaya, temannya yang masuk rumah sakit karena dipukulnya. Aku jadi ragu.&lt;br /&gt;“Aku tak pernah melihatmu mengajak teman- teman sekolahmu ke rumah pak Umar.” Aku bicara sambil duduk di sampingnya. Pertanyaanku membuatnya tersenyum. “kau seperti tidak tahu saja, mana ada yang mau akrab denganku. Ayahku pemilik kebun di sebelah kampung kalian, lagipula mereka mungkin takut padaku karena kau pernah memukul orang sampai masuk rumah sakit. Kau juga demikian bukan?” Aku menelan ludah, seolah dia tahu apa yang kupikirkan. “Oke, selepas sholat zuhur kalau kau tidak sibuk, main saja ke kamarku.” Najmun beranjak meninggalkanku. Dia terus saja tersenyum meski matanya tak terlihat karena tertutup poni rambutnya.&lt;br /&gt;           Kamar Najmun terasa sejuk meski di luar begitu panas. “Matahari itu bintang?” pertanyaanku itu seakan menyadarknnya pada ucapannya tadi tentang matahari.” “Matahari itu bintang paling dekat dengan bumi. Nanti kau akan mempelajarinya di sekolah.” “Kau banyak tahu ya,” Aku memandangnya dengan beragam perasaan, antara takjub dan juga iri. “Aku banyak membaca saja.” “Kau kaya, gampang beli buku.” Pernyataanku mengubah raut wajahnya. Ia merengut, sepertinya tak senang. “Aku tak minta ditakdirkan sebagai orang kaya. Kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita.” Ucapannya mengagetkanku. Ada apa dengn hidupnya? “kau ini aneh, kalau aku bisa memilih, tentu saja aku memilih lahir sebagai anak orang kaya sepertimu.” “Hehh, kekayaan yang didapat dengan menghancurkan bumi. Kau tak pikir sudah berapa hutan yang dibabat habis oleh ayahku untuk dijadikan kebun? Sudah berapa kampung yang dirusak olehnya cuma agar ia bisa tambah kaya. Kau tahu betapa luar biasanya bumi kita? Satu-satunya planet yang punya komposisi yang memungkinkan untuk sebuah kehidupan, air, oksigen, nitrogen, cuaca. Dan ayahku menghancurkannya. Aku membencinya tapi ia ayahku. Oh ya, dan kau tahu mengapa aku memukul temanku sampai masuk rumah sakit? Karena ia dengan bangganya bercerita bahwa ia berhasil mengipasi paman penyapu jalan depan sekolah kami dengan asap knalpot motor barunya padahal paman itu yang setiap hari membuat jalan yang dia lalui untuk ke sekolah jadi bersih.”&lt;br /&gt;           Waktu dia menceritakan itu aku cuma bisa mengangguk sambil tetap berpikir dalam hati bahwa ia beruntung jadi orang kaya dan pikirannya tentang ayahnya terlalu berlebihan. Tapi suatu waktu akhirnya aku sadar bahwa Najmun saat itu sedang bertarung dengan takdir dan keyakinannya. Beban yang begitu menghimpit untuk anak seusianya.&lt;br /&gt;           Kami masih terus membicarakan bintang. Malam itu seperti malam-malam biasanya. Saat itu kami berbaring saja di loteng itu. Dia bercerita tentang Supernova. “Tak ada yang abadi, begitu pula bintang.  Suatu saat bahan bakar bintang akan habis. Kau tahu Di, kata ahli bintang, inti bintang adalah besi. Saat bahan bakar bintang utuk bersinar habis, inti bintang akan lebih memanas, meleburkan semua unsur di bintang yang lebih ringan dari besi. Setelah semua lebur di inti bintang maka bintangnya sendiri juga akan lebur, lalu bummm…terjadilah Supernova, ledakan bintang.” Aku diam mendengarkannya dengan seksama. “Lalu?” “Lalu…?” “Iya, apa yang terjadi dengan bintang itu?” Najmun menjawab dengan ekspresi menakut-nakuti, “Dia akan berubah mejadi lubang hitam. Lubang hitam itu menghisap cahaya apapun yang ada di dekatnya. Konon, tak ada benda apapun di dekatnya yang bisa lolos dari hisapan lubang hitam.” Aku merasa sedikit ketakutan.&lt;br /&gt;           Saat aku akan pulang, dia memberikan teropongnya padaku, “Ambillah. Bintang saja bisa tamat riwayatnya, apalagi kita. Aku ingin kau tahu, aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu, Ardi.  Tahukah kau kalau namamu dalam bahasa Arab berarti Bumi? Bintang dan bumi. He he he. Selamat malam teman.” Aku merasa saat itu ucapannya begitu aneh. Seperti sebuah ucapan perpisahan. Aku pulang ke rumah dengan menenteng teropong Najmun. Aku tidur dengan ketidakmengertianku tentang ucapan terakhirnya.&lt;br /&gt;           Keesokan harinya keherananku terjawab. Aku tak menemukan Najmun di sekolah. Saat kutanya teman-teman sekelasnya mereka tidak tahu. Saat pulang, ayah menyerahkan titipan Najmun berupa satu kardus buku-bukunya. Ayah bilang kalau Najmun pulang ke rumah ayahnya, pak Umar sekeluargapun ikut dengan Najmun. Mereka semua seperti lenyap ditelan bumi. Belakangan aku tahu kalau mereka semua diamankan ayah Najmun karena beberapa bulan kemudian ayah Najmun mulai mencoba mengambil tanah penduduk kampungku dengan membujuk untuk membelinya, namun karena diacuhkan penduduk kampung dia mulai mempersengketakan tanah kami dengan alasan tanah adat kami tak punya surat-surat tanah yang lengkap. Pelan-pelan aku bisa mengerti dan merasakan kebencian Najmun pada ayahnya, dan aku akhirnya juga membenci ayahnya. Aku tumbuh dewasa di antara sengketa tanah yang tak kunjung selesai. Antara semangat mempertahankan tanah adat penduduk kampungku dan keserakahan ayah Najmun.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman ini akan ramai selepas Isya. Walikota merenovasi air mancur di tengah taman sehingga nampak begitu indah di malam hari. Lampu-lampu hias yang membentuk pola bunga teratai di sekeliling air mancur membuat air mancur begitu menakjubkan. Menurutku renovasi itu sebuah pemborosan, namun sepertinya penduduk kota menyukainya. Aku menyempatkan pergi ke taman ini hampir tiap malam. Aku menyempatkan duduk sebentar di kursi taman, melihat bintang.&lt;br /&gt;Sudah 12 tahun berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Najmun. Aku tak pernah lagi bertemu dengannya, tapi aku selalu teringat pada. Aku sudah coba mencarinya saat kuliah di kota yang sama dengan tempat tinggalnya, tapi orang di rumahnya bilang dia sudah pindah keluar negeri. Aku kehilangan jejaknya. Mungkinkah dia sudah menjadi seorang astronom seperti cita-citanya.&lt;br /&gt;Kulihat langit, dengan mudah kutemukan rasi bintang Beruang Besar. Ku terus mengamati langit sampai seseorang berbicara dengan kalimat yang terasa akrab di  telingaku. “Bintang-bintang itu adalah bintang-bintang yang sama sejak sepuluh ribu tahun yang lalu.” Ku cari sumber suara itu, dan itu bukan suara Najmun. Itu suara seorang wanita. “Maaf, anda bilang bintang-bintang itu tak berubah sejak sepuluh ribu tahun lalu?” Kuulangi ucapannya, wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya tirus tapi menyiratkan kecerdasan, rambutnya tertutup kerudung warna putih. Wanita cantik. Ia lantas duduk di sampingku.&lt;br /&gt;“Ucapan Anda mengingatkan saya pada seseorang.” Ujarku. Dia berbicara tanpa memandang ke arahku, “Aku sering melihatmu di taman ini. Memandangi langit, kadang dengan teropong. Anda juga mengingatkan saya pada suami saya.”&lt;br /&gt;Lalu seperti ada bisikan yang begitu pelan yang terngiang-ngiang di benakku, perasaan yang kuat muncul hingga membuatku mengucapkan nama itu. Seperti sebuah pemahaman abstrak yang tiba-tiba muncul, “Najmun.” “Iya, Najmun. Mulkan Najmun, dia suami saya. Anda mengenalnya? Dari mana anda tahu tentangnya? Anda siapa?” Wanita itu jelas sekali terkejut. Matanya yang agak letih membelalak kaget. Demikian pula aku. Takdir telah membawaku lagi pada temanku di masa lalu. “Sya mencarinya bertahun-tahun. Bagaimana keadaannya?”&lt;br /&gt;Aku dan Marina, wanita itu berjanji bertemu di tempat ini, sebuah kompleks pekuburan. Sulit sekali menerima kenyataan. Marina menunjukkan padaku makam suaminya. Lelaki yang selama 12 tahun ini kucari-cari. Lelaki yang senang sekali membicarakan bintang. Lelaki yang mengajariku menyukai bintang dan menghargai alam. Mengubah cara pandangku terhadap kehidupan. Membuatku tangguh menjadi pembela penduduk kampungku lalu menguatkan tekadku untuk mejadi seorang pengacara perdata bagi penduduk yang tanahnya digasak.&lt;br /&gt;Dari Marina aku tahu perjalanan hidup Najmun yang memilukan. Dia bercerita bahwa setelah usaha perampasan tanah kampungku, Najmun tambah membenci ayahnya. Dia lalu minta dikirm ke Bonn, Jerman. Ayahnya pikir dia akan mendalami ilmu astronomi di sana, tapi ia malah memutus kontak dengan keluarganya. Najmun hidup luntang lantung di negeri itu sampai akhirnya bertemu Marina yang mendapat beasiswa kuliah di Berlin. Mereka menikah lalu pulang ke tanah air. Namun, sebelum Najmun sempat menata ulang hidupnya, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas tiga tahun lalu. Hatiku tambah sakit saat ku tahu dia kecelakaan dalam sebuah bis yang ditumpanginya menuju kampungku pada suatu malam yang cerah. Marina bilang Najmun sering bercerita tentangku.&lt;br /&gt;Malam ini, bintang-bintang masih tetap sama. Langit malam ini tak begitu cerah, namun aku masih melihat beberapa bintang. Najmun pernah bilang bintang terdekat dengan bumi setelah matahari adalah centauri. Mungkin saja itu bintang yang sekarang sedang bersinar di atas sana. Seperti juga dia pernah bilang jika aku ingat padanya, aku harus mencari bintang paling terang karena dialah bintang paling terang itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life just like this, for the brighter star&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-7574393077694666553?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/7574393077694666553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=7574393077694666553' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/7574393077694666553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/7574393077694666553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/10/lelaki-yang-senang-membicarakan-bintang.html' title='LELAKI YANG SENANG MEMBICARAKAN BINTANG'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-6331722087549439901</id><published>2007-10-31T09:46:00.000+08:00</published><updated>2007-11-07T11:04:21.585+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>KONGRES CERPEN INDONESIA V YANG SATIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Dunia kesastraan Kalsel ternyata tak menjemukan seperti yang biasa terjadi. Kenapa bisa terjadi realitas macam itu? Kenapa dunia sastra Kalsel yang biasanya senyap menjadi hiruk pikuk? Karena Kongres itukah, benarkah karena Kongres Cerpen Indonesia V itu?&lt;br /&gt;           Saya cukup merasa diapresiasi oleh panitia kongres Cerpen Indonesia (KCI) V ketika saya yang bukan siapa-siapa ini diundang menjadi peserta, padahal panitianya bisa saja toh tidak mengundang saya. Terimakasih buat panitia.&lt;br /&gt;           Awalnya saya sudah membayangkan yang bukan-bukan. Bahwa saya akan menjadi bonsai diantara beringin cerpen Indonesia. Bahwa saya akan menemukan serombongan raksasa jagat cerpen Indonesia di mana saya tiba-tiba merasakan perasaan ABG yang mau bertemu idola. Bahwa para cerpenis seantero Kalsel yang notebene adalah tuan rumah akan hingar bingar memenuhi Taman Budaya Kalsel. Bahwa ruh cerpen akan merasuki benak tiap orang yang ada di Kongres itu.&lt;br /&gt;           Ternyata pikiran itu mengejek saya pada akhirnya. Saya menemukan kenyataan yang berbeda. Saya memang menemukan raksasa-raksasa itu, tapi tak sebanyak bayangan saya sebelumnya. Tapi hal itu masih bisa saya syukuri, tak ada momen dalam hidup saya sebelumnya di mana saya akhirnya bisa bertemu dan berbincang dengan cerpenis yang cerpennya tentang jbegitu kuat dalam ingatan saya seperti Agus Noor, atau Mbak Katrin Bandel dengan suaminya Om Saut Situmorang yang begitu eksentrik untuk ukuran urang banjar, atau Pak Ahmadun yang Redaktur Republika itu (seseorang yang membuat saya sering teringat puisi Suluk Komputer-nya jika saya di depan komputer), atau ahli Ronggeng Pak Ahmad Tohari dan istrinya yang  low-profile. Buat saya itu luar biasa. Tapi wajar toh jika saya berharap lebih pada KCI yang menasional itu? Berharap saya akan bertemu Seno Gumira yang saya candui, atau Putu Wijaya yang membuat saya menyukai cerpen dengan cerpen-cerpennya, dan banyak lagi cerpenis di jagat cerpen Indonesia. Di mana mereka semua? Mereka mungkin punya agenda sendiri, punya hidup sendiri. Kita yang punya hajatan saja yang mungkin berpikir bahwa KCI V ini begitu penting. He he he.&lt;br /&gt;           Lalu tentang hingar bingar cerpenis seantero Kalsel? Mungkin karena tak banyak cerpenis di kelsel maka tak terlalu hingar. Tapi tak juga demikian, peserta sebenarnya seolah-olah banyak, karena tak cuma cerpenis dari Kalsel yang hadir, lebih banyak juga penyair, teaterawan bahkan juga guru-guru. Tapi memang jumlah yang banyak ini menjadi tidak signifikan saat diskusi cerpen. Yang lebih lucu lagi dari jumlah yang sedikit saat diskusi ini sebagian dari mereka punya aktivitasnya masing-masing sehingga ruang diskusi yang pengap karena tak ada AC itu riuh rendah dengan beraneka diskusi sehingga akhirnya semua menjadi begitu lelah. Dan pembicara di depan mungkin menemukan momen mereka sendiri saat mereka seakan-akan bermonolog.&lt;br /&gt;           Kongres itu juga memberikan banyak pengetahuan pada saya sebagai si bukan siapa-siapa di jagat sastra Indonesia, saya baru tahu kalau ’perlawanan’ terhadap Komunitas Teater Utan Kayu yang konon kabarnya begitu liberal itu tidak cuma dilakukan oleh aktivis antiliberalisme tapi juga oleh sastrawan karena katanya sastrawan TUK telah menghegemoni dunia sastra. Menjadi rezim. Saya juga baru tahu kalau ternyata Saman-nya Ayu Utami tak begitu bernilai sastra. Saya juga baru tahu bahwa masalah Jakarta-sentris atau Jogja–sentris yang mengamini bahwa masuk ke media nasional adalah jalan terbaik untuk menjadi sastrawan nasional itu ternyata bukan sebuah masalah.&lt;br /&gt;           KCI V  juga ternyata begitu satir buat saya. Saya menemukan orang-orang yang senantiasa menjadi patron dalam setiap perhelatan seni apalagi perhelatan nasional yang diadakan di kalsel menjadi bukan siapa-siapa di momen ini karena secara alami para cerpenislah yang menjadi patron di sini, menjadi bintang di sini. Kongres cerpen ini menjadi milik cerpenis memang. Hal tersebut di Kalsel tentu saja sangat jarang ditemui, bahkan mungkin takkan ditemukan di momen lain.&lt;br /&gt;           Hal satir selanjutnya adalah ketika seorang cerpenis Kalsel berlevel nasional tidak masuk di kepengurusan Komunitas Cerpen Indonesia 2007-2010 (padahal saya orang pertama mungkin yang menebak om saya ini akan menjadi petinggi Komunitas Cerpen Indonesia). Mungkin itu bukan sebuah masalah, tapi buat saya itu adalah hal yang satir dan cukup menarik untuk diceritakan.&lt;br /&gt;           Hal satir lainnya, he he he. Ini soal dosen saya yang dia seharusnya mengikuti diskusi-diskusi cerpen dan mengambil banyak manfaat dari diskusi tersebut dalam kapasitasnya sebagai seorang kritikus sastra Kalsel tapi ternyata dia ujug-ujug sebagai panitia (dimana di momen tertentu Beliau ini lebih mirip tukang ojek atau tukang sapu ketimbang panitia).&lt;br /&gt;           Siapa menduga momen-momen tersebut hadir di KCI V. Kegiatan ini dalam ukuran peserta luar Kalsel mungkin terasa begitu sederhana  begitu juga buat saya pribadi, tapi ada loncatan-loncatan kenangan yang menggelitik untuk terus diingat.&lt;br /&gt;           Lalu, bagaimana nasib percerpenan Kalsel pasca KCI V? Apakah semua unsur telah siap untuk saling melengkapi? Apakah media lokal sudah siap menjadi martir bagi produktivitas karya cerpen maupupun kritik cerpen? Mungkin Radar Banjarmsin siap karena mereka menyediakan satu halaman penuh untuk cerpen plus ilustrasi yang dibuat langsung oleh redakturnya yang adem dan memang mewujud sebagai sastrawan juga itu. Bagaimana dengan Banjarmasin Post, Serambi Ummah atau Mata Banua? Keluhan tentang penyunatan isi cerpen itu sepertinya perlu dibenahi. Jangan sampai cerpen dipotong sehingga yang sampai ke pembaca cuma paragraf pertama atau yang terakhir saja dari cerpen itu. Buat saya adalah sebuah kejahatan memotong isi cerpen seseorang apalagi tanpa konsultasi dengan pengarangnya.&lt;br /&gt;           Birokrasi yang berenang-renang di bidang seni budaya, siapkah juga untuk menjadi pahlawan dunia cerpen kalsel? Setelah mengadakan KCI V, siapkah kiranya Beliau-beliau ini menyisihkan dana untuk penerbitan karya cerpen maupun kritik cerpen pengarang Kalsel? Apakah telah tersedia sekian ratus juta yang lain untuk cerpen Kalsel?&lt;br /&gt;           Sastrawan Kalsel pada umumnya dan Cerpenis Kalsel pada khususnya, sudah siapkah untuk menghidupkan cerpen Kalsel? Sudah siapkah dengan produktivitas karya dan peningkatan kualitas karya? Jika gejala cerpen Kalsel melihat bahwa perempuanlah yang merajalela, mungkin juga sudah saatnya laki-laki juga bersiap untuk ‘setara’ dengan perempuan. Para kritikus sastra Kalsel sudahkah keluar dari lubang persembunyiannya (karena Belanda masih jauh tenyata, he he he) dan mulailah mereka membicarakan karya cerpenis Kalsel. Menyuburkan tradisi kritik cerpen di Kalsel karena ujar seseorang, karya itu akan jadi besar jika dibicarakan. Seseorang itu juga bilang, karya-karya sastrawan ‘muda’ belum tentu tak sebermutu sastrawan yang sudah lawas, bedanya cuma, sastrawan-sastrawan terkenal itu tiap mereka menghasilkan karya selalu dibicarakan. Berkorbanlah untuk perkembangan cerpen Kalsel wahai kritikus, kritiklahpara cerpenis itu..&lt;br /&gt;           Dan para penikmat cerpen di Kalsel, Sudahkah menyukai cerpen? Sudahkah membaca karya cerpenis Kalsel? Sudahkah memperbanyak diri? Sudahkah menjadi signifikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Sudahkah semua berada di posisinya masing-masing?&lt;br /&gt;           KCI V sudah lewat,  tapi semoga pihak yang diamanahi sebagai pengurus KCI bisa amanah menunaikan tugasnya untuk menjadikan dunia cerpen Kalsel lebih baik, khususnya Zulfaisal Putra yang menjabat sebagai Ketua I yang merupakan representasi dari Kalsel. Semoga dia bisa bekerja untuk kepentingan cerpen Indonesia dan khususnya cerpen Kalsel. Semoga kelak ia dikenang sebagai pihak yang membesarkan karya cerpen di Kalsel. Karena jika tidak, maka mungkin yang merasa berhak untuk ada di jabatan dia sekarang, akan murka.&lt;br /&gt;           Demikianlah.Wallahu’alam bishawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-6331722087549439901?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/6331722087549439901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=6331722087549439901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/6331722087549439901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/6331722087549439901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/10/kongres-cerpen-indonesia-v-yang-satir.html' title='KONGRES CERPEN INDONESIA V YANG SATIR'/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-864683505669908735.post-9156456030991155570</id><published>2007-10-31T09:03:00.000+08:00</published><updated>2007-10-31T09:06:43.943+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selamat datang di blog saya. semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/864683505669908735-9156456030991155570?l=risalahgerimis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/feeds/9156456030991155570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=864683505669908735&amp;postID=9156456030991155570' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/9156456030991155570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/864683505669908735/posts/default/9156456030991155570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://risalahgerimis.blogspot.com/2007/10/selamat-datang-di-blog-saya.html' title=''/><author><name>risalahgerimis</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10913527246803778311</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
